SEKILAS INFO
  • 1 tahun yang lalu - 40 Tahun Walhi, Perluas Konsolidasi, Pulihkan Demokrasi Untuk Keadilan Ekologis
  • 1 tahun yang lalu - Rampas, Sebuah Potret Buruk Perizinan Kebun Kayu
  • 1 tahun yang lalu - Waspada Covid 19 – Jangan Lupa Cuci Tangan – Lakukan Pola Hidup Sehat – #dirumahaja
WAKTU :
Diterbitkan :
Kategori : Alternatif Penyelamatan Lingkungan / Bencana Alam / Energi Bersih Terbarukan / Isu Perkotaan
Komentar : 0 komentar

Riau memiliki lahan gambut seluas 4,04 jt hektar yang merupakan 56,1 % luas total gambut di Sumatera. Kondisi ini tidak sepenuhnya baik, tahun 2017 disebutkan 2.4 juta hektar dalam kondisi kritis akibat kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran hutan dan lahan tahun 2019 seluas 300.000 hektar berdampak pada lepasnya gas metan dalam jumlah besar.  Gas metan merupakan gas rumah kaca yang lebih beracun daripada co2, gas metan akibat kebakran lahan gambut 10 kali lebih banyak dibanding kebakaran lahan lain. Efeknya, dampak kebakaran lahan gambut terhadap pemanasan global lebih besar dibandingkan kebakaran pada lahan lain. Pemanasan global menjadikan musim panas yang lebih panjang menyebabkan keringnya lahan gambut karena aktifitas perkebuan skala besar dan hutan tanaman industri menjadi rawan terbakar. Kenaikan permukaan air laut karena peningkatan suhu 1.5 derajat celcius semakin memperparah bencana banjir Rob di pesisir wilayah Provinsi Riau. Pelapasan gas metan akibat kerusakan lingkungan di Riau berpengaruh terhadap kebijakan perubahan iklim Indonesia.

Negara menjamin dengan UUD 1945 pasal 28H Ayat 1 “setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan medapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh palayanan kesehatan”, jaminan hak hidup dan hak atas lingkungan yang baik dan sehat juga bagi generasi yang akan datang. Kepastian ini tidak terlihat dari kebijakan pembangunan rendah karbon Indonesia. Dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) yang merupakan tindak lanjut Paris Agreement menyebutkan target penurunan emisi indonesia hingga 2030 sebesar 29% dari Bussiiness as Usual (BAU) dengan upaya sendiri sampai dengan 41% dengan bantuan international. Proyeksi pembangungan rendah karbon Indonesia hanya menurunkan emisi hingga tahun 2030 dan akan meningkat terus hingga 2045 sehingga target NDC indonesia masih jauh dari upaya menahan kenaikan suhu kurang dari 1.5 derajat celcius.  NDC indonesia tidak menempatkan kelompok muda sebagai generasi yang akan datang menjadi pusat kebijakan iklim dimana seharusnya generasi yang akan datang harus menjadi salah satu pertimbangan utama dalam pembuatan kebijakan iklim indonesia agar memenuhi keadilan antar generasi.

Melalui keadilan antar generasi, negara menjamin hak hidup dan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat generasi yang akan datang yakni meraka menjadi salah satu pihak paling terdampak. Masa depan generasi mendatang dipertaruhkan pada kebijakan negara mengatasi krisis iklim yang telah terjadi. Meningkatnya kaum muda yang membangun gerakan bersama menuntut pemerintah dunia untuk meningkatkan kabijakan dalam menghadapi isu krisis iklim.

 

Dokumentasi Kegiatan

Be Sociable, Share!
SebelumnyaBoy Jerry Even Sembiring Direktur Walhi Riau Terpilih SesudahnyaAnak Muda Riau Kritik Sumber Daya Alam Jadi Ladang “Perburuan”
Nama-nama yang untung membeli sawit bahkan dari taman nasional dan yang lepas dari jeratan hukum – jika sawit jadi tanaman hutan Nama-nama yang untung membeli sawit bahkan dari taman nasional dan yang lepas dari jeratan hukum – jika sawit jadi tanaman hutan
PEKANBARU, 30 NOVEMBER 2021 – Sudah bukan rahasia lagi banyak nama pemain industri sawit, mulai dari pabrik kelapa sawit, perusahaan perkebunan hingga pemasok crude palm oil (minyak sawit mentah) terlibat...
Kenapa sawit tidak layak jadi tanaman hutan – sawit dalam hutan  dan ancaman kepunahan lokal satwa liar Kenapa sawit tidak layak jadi tanaman hutan – sawit dalam hutan dan ancaman kepunahan lokal satwa liar
PEKANBARU, 26 NOVEMBER 2021 – Temuan Eyes on the Forest selama 17 tahun mendapati dampak buruk praktek korporasi perkebunan kelapa sawit bagi hutan alam, dan keanekaragaman hayati. Dari temuan EoF...
Seminar Nasional “Sawit Sebagai Tanaman Hutan di IPB,” Forum Akademis Untuk Merusak Hutan Seminar Nasional “Sawit Sebagai Tanaman Hutan di IPB,” Forum Akademis Untuk Merusak Hutan
 Pekanbaru, 25 November 2021–Koalisi Eyes on The Forest (EoF) mengecam penyelenggaraan Seminar Nasional  “Permasalahan, Prospek dan Implikasi Sawit Sebagai Tanaman Hutan” yang bertentangan dengan tekad Pemerintah Indonesia untuk berkontribusi mengurangi...
Melindungi Wilayah Adat dari Ancaman Tambang & Kedok Kepentingan Umum Melindungi Wilayah Adat dari Ancaman Tambang & Kedok Kepentingan Umum
Pekanbaru, 13 November 2021—Mahkamah Agung melalui Putusan Putusan Nomor 13 P/HUM/2018 tanggal 31 Mei 2018 menyatakan Pasal 10 ayat (1) dan ayat (2) juncto Pasal 16 ayat (1) Peraturan Daerah...
Anak Muda Riau Kritik Sumber Daya Alam Jadi Ladang “Perburuan” Anak Muda Riau Kritik Sumber Daya Alam Jadi Ladang “Perburuan”
Tidak ada yg lebih buruk daripada mewariskan hutan yg hancur, lingkungan hidup yg rusak, dan punahnya keanekaragaman hayati. Pekanbaru 5 November 2021, Walhi Riau melakukan aksi damai penyelamatan bumi serta...
DISKUSI ANAK MUDA RIAU DAN LINGKUNGAN HIDUP DI RIAU DISKUSI ANAK MUDA RIAU DAN LINGKUNGAN HIDUP DI RIAU
Riau memiliki lahan gambut seluas 4,04 jt hektar yang merupakan 56,1 % luas total gambut di Sumatera. Kondisi ini tidak sepenuhnya baik, tahun 2017 disebutkan 2.4 juta hektar dalam kondisi...


TINGGALKAN KOMENTAR